Januari 16, 2018 4:27 pm
Breaking News
Home / Pendidikan / DPRD Semarang : KIA Jangan Hanya Sebatas Identitas
DPRD Semarang : KIA Jangan Hanya Sebatas Identitas

DPRD Semarang : KIA Jangan Hanya Sebatas Identitas

APS18.com- Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang menyarankan keberadaan Kartu Identitas Anak (KIA) tidak hanya sebatas untuk identitas biasa, tetapi lebih baik lagi kalau memiliki banyak fungsi.

Anggota Komisi A DPRD Kota Semarang Sovan Haslin Pradana di Semarang, Senin, mengatakan pemerintah daerah bisa saja memaksimalkan fungsi KIA untuk menunjang fasilitas bagi anak, termasuk meningkatkan kunjungan wisata ke destinasi-destinasi unggulan.

Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) itu mencontohkan fungsi KIA yang bisa untuk mendapatkan diskon ketika anak membeli buku atau mengunjungi destinasi wisata yang ada di Semarang.

“Kami harapkan Pemerintah Kota Semarang aktif bekerja sama dengan swasta atau investor. Ya, untuk kemajuan Kota Semarang dengan memaksimalkan fungsi dan kegunaan KIA,” katanya.

Ia menyebutkan pembuatan KIA pada tahun ini ditargetkan sebanyak 30 ribu lembar, tetapi dalam perkembangannya dikurangi menjadi 13 ribu kartu untuk tahap pertama sebagai “pilot project”.

“Dari dewan siap menambahkan pada anggaran perubahan 2017 atau di APBD murni 2018. Kami berharap target pembuatan KIA sebanyak 203 lembar bisa tercapai pada 2018,” pungkas Sovan.

Sementara itu, Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Semarang Mardiyanto mengaku sudah bekerja sama dengan sejumlah toko buku dan wahana bermain untuk memberikan diskon.

“Misalnya dengan Toko Buku Toga Mas, termasuk tempat-tempat wisata. Sementara ini, yang sudah menyanggupi dari Wahana Air Water Blaster yang siap memberi diskon 20 persen bagi pemegang KIA,” katanya.

Mengenai pembuatan KIA, ia menyebutkan pada tahap pertama direncanakan sebanyak 13 ribu KIA yang akan dilakukan pada tahun ini, sekaligus sebagai proyek percontohan.

“Untuk tahun ini memang masih `pilot project`. Makanya, dicetak dulu 13 ribu KIA untuk tahap pertama. Kalau disesuaikan dengan data jumlah anak usia 0-16 tahun ada 203 ribu jiwa,” katanya.

Pencetakan tahap pertama, kata dia, dilakukan selektif dengan menggandeng sejumlah lembaga pendidikan atau sekolah yang mewakili kecamatan yang ada karena jumlahnya masih terbatas.(bjn)