Januari 16, 2018 4:30 pm
Breaking News
Home / Budaya / Dugderan 2017 Tanpa Permainan Bianglala dan Komedi Putar
Dugderan 2017 Tanpa Permainan Bianglala dan Komedi Putar

Dugderan 2017 Tanpa Permainan Bianglala dan Komedi Putar

APS18.com,- Tradisi Dugderan yang digelar menjelang bulan Ramadan 2017 di lingkungan Johar, dipastikan tidak ada permainan anak-anak seperti Bianglala, Komedi Putar, Tong Stand (Tong Setan) dan permainan anak-anak lainnya.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang Fajar Purwoto, memastikan tidak ada permainan anak-anak tersebut, lantaran lahan sekitar dekat bekas Pasar Johar yang terbakar sangat terbatas.

“ Dugderan tahun 2017 ini, Pemkot Semarang tidak menyediakan lahan untuk tempat permainan anak-anak. Sebab, permainan anak-anak tersebut menyita lahan yang cukup luas,” kata Fajar Purwoto.

Menurut Fajar, tradisi Dugderan yang sudah ada di Kota Semarang sejak zaman dahulu, rutin digelar di kawasan Alun-alun dekat Masjid Agung Semarang atau Masjid Kauman, sampaing Hotel Metro dan Jalan Agus Salim serta dekat Kantor Pos.

Fajar mengakui bahwa saat ini para pedagang gerabah yang menjadi identitas permainan anak – anak pada Dugderan sudah berdatangan dari berbagai daerah. Para pedagang saat ini sudah memadati di pinggir Jalan Soekarno-Hatta dekat kawasan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT).

 Para pedagang gerabah tersebut memanfaatkan lahan di pinggir Jalan Soekarno – Hatta sudah sejak beberapa hari lalu. “Kebetulan setiap menjelang Dugderan di sekitar kawasan Masjid Agung Jawa Tengah tersebut juga digelar Pasar Malam untuk pesta rakyat,” ucapnya.

Pasar Malam di kawasan lahan MAJT tersebut, kata Fajar juga diisi pementasan musik Dang dut dengan artis dari lokal.

“ Kemeriahan menjelang Dugderan saat ini sudah mulai nampak,” kata Fajar Purwoto.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Semarang Umi S Diniyah berharap kepada pihak-pihak terkait, pemerintah kota atau OPD (Organisasi Perangkat Daerah) harus tetap memantau sekaligus mensinergikan antara tugas pokok masing-masing OPD untuk menjaga tradisi Dugderan tetap lestari.

“ Kami harapkan keberadaan tradisi Dugderan tertata dengan apik dan rapi. Dugderan sudah melekat dengan Kota Semarang menjelang bulan suci Ramadan agar tertib, rapi dan teratur,” kata Umi S Diniyah.

Dikatakan, Dugderan juga sering diramaikan dengan permainan anak-anak, tetapi karena terlalu memakan tempat maka diharapkan untuk ditata yang lebih rapi atau ditempatkan di area yang tidak mengganggu jalan umum. (bjn)