Desember 15, 2017 3:26 pm
Breaking News
Home / Budaya / Warga Binaan LP Bulu Peragakan Lomba Busana
Warga Binaan LP Bulu Peragakan Lomba Busana

Warga Binaan LP Bulu Peragakan Lomba Busana

APS18.com,- Puluhan warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas II A Wanita Bulu, Semarang, Jawa Tengah, Selasa, unjuk kebolehan menjadi model dengan berbagai pakaian yang mereka tampilkan.

Kegiatan bertema “She`s Time; E-Fash (Evening Fashion) itu diprakarsai oleh Pemerintah Kota Semarang, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Semarang, Hotel Star Semarang, dan komunitas sosialitas setempat.

Tanpa canggung, satu per satu warga binaan yang didapuk menjadi model berlenggak-lenggok seperti layaknya di atas “catwalk” dengan gaun yang sudah disiapkan, tak kalah dengan penampilan model-model profesional.

Dengan postur yang tinggi bak model, para warga binaan yang sudah terpilih membawakan koleksi pakaian itu juga mendapatkan ramai aplaus dan sorak-sorai dari rekan-rekannya yang menonton.

“Ini sebenarnya menindaklanjuti peringatan Hari Kartini pada tanggal 21 April lalu. Kami `kan ke sini dan melihat potensi para warga binaan yang semuanya perempuan,” kata Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu.

Ternyata, kata Ita, sapaan akrab Hevearita, warga binaan di LP Bulu memiliki potensi dan bakat yang tidak kalah dengan model profesional, ditunjang dengan postur tubuh yang tinggi dan keelokan paras wajahnya.

Bahkan, dia mengapresiasi karena ada beberapa model pakaian yang ternyata dirancang sendiri oleh warga binaan sehingga potensi yang dimiliki tersebut harus difasilitas dan dibina untuk dikembangkan.

“Kami perhatikan ternyata potensi mereka luar biasa. Oleh karena itu, kami berinisiatif menggelar `fashion show` semacam ini. Beberapa di antaranya, mereka membuat hasil karyanya sendiri,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala LP Kelas II A Wanita Bulu Semarang Rosnaida menyebutkan total warga binaan yang ada di lapas tersebut sebanyak 389 orang, dan 70 persen di antaranya merupakan narapidana kasus narkoba.

“Selama ini, kami menyediakan berbagai kegiatan pelatihan keterampilan untuk warga binaan. Ada membatik, membuat payet, sablon, dan sebagainya. Sebagian hasil karyanya juga sudah dipasarkan,” katanya.

Dengan adanya perhatian dari Pemkot Semarang, dia berharap potensi-potensi yang dimiliki warga binaan itu bisa dikembangkan secara lebih baik, terutama setelah mereka menghirup udara bebas.

“Kami sebenarnya mereka (warga binaan) ini ingin dapat sertifikasi atas keahlian yang dimiliki. Ya, sebagai pengakuan dan bekal setelah mereka keluar. Mereka `kan bisa bekerja dengan lebih baik,” katanya. (otg/bjn)