Desember 15, 2017 3:22 pm
Breaking News
Home / Budaya / Riwayat Stasiun Kudus, Perlu Dilestarikan
Riwayat Stasiun Kudus, Perlu Dilestarikan

Riwayat Stasiun Kudus, Perlu Dilestarikan

APS18.COM-Stasiun Kudus yang kini hampir punah bangunannya di daerah Wergu memiliki kisah panjang pada waktu zaman Belanda. Jalur transportasi yang menghubungkan ke daerah lain seperti Semarang, Purwodadi, menjadi saksi roda perekonomian Kudus.

Hal inilah yang ingin diangkat Pengamat Sejarah Edi Supratno. Selain jalur transportasi Stasiun Kudus juga ditelusuri jalur peperangan agresi militer Belanda. Kisah stasiun Kudus tidak hanya pasca kemerdekaan tetapi pada masa penjajahan juga menjadi jalur penting.

”Saya baru meneliti dan menelusuri sejarah lengkap Stasiun Kudus. Jadi tidak hanya awal berdiri tapi cerita lainnya yang belum banyak diketahui orang secara mendalam. Dan, salah satu bangunan sejarah kalau pada zaman sebelum kemerdekaan Kudus sudah dijadikan jalur perekonomian pemerintah kolonial,” terangnya.

Edi mengatakan, waktu peringatan 17 Agustus sengaja mengadakan upacara di stasiun. Tujuannya, menarik warga melihat dan tertarik melihat kondisi stasiun sekarang. Selama ini hanya sebatas stasiun kuno dan bekas pasar, tapi bangunan-bangunan detailnya mereka tidak tahu.

Ketua Karang Taruna Wergu Kulon Arif Indaryanto mengatakan, generasi muda wajib ikut nguri-uri sejarah dan merawatnya. Jangan sampai rusak, contohnya dicorat-coret atau digunakan tempat mesum dan lainnya.

”Sekarang ini stasiun Kudus kosong. Itu setelah pasar Wergu pindah ke lokasi baru. Kalau malam hari kondisi gelap, jadi rawan untuk tempat mojok anak-anak muda. Inilah yang harus diwaspadai jangan sampai tempat yang memiliki arti sejarah rusak gara-gara perbuatan yang tidak bertanggung jawab,” terangnya.

Dia menambahkan, generasi muda harus pro aktif menjaga bangunan bersejarah, memang fisiknya yang sudah rusak dan kotor. Kalau sudah tahu seperti itu, jangan menambah rusak bangunan.

”Kami karang taruna siap melestarikan dan menjaga stasiun Kudus, karena berada di wilayah kami secara otomatis ikut memiliki. Warga setempat juga sudah sadar kalau perlu dijaga, biasanya orang dari luar yang seenaknya sendiri dan tidak mau menghargai peninggalan sejarah,” terangnya.
Sumber: http://www.jawapos.com